Cussons Bintang Kecil season 3 di Kota Kasablanka

Pada hari Minggu tanggal 8 Maret 2015 (again, another very late post), Nana diminta untuk mengisi acara Cussons Bintang Kecil season 3 di Mal Kota Kasablanka. Yang sangat membanggakan adalah kali ini Nana harus menyanyi seorang diri di atas panggung di tengah atrium mal. Berikut foto-foto dan video penampilan Nana saat menyanyikan lagu “Apuse”.

IMG-20150308-WA0019IMG-20150308-WA0023

 

Iklan

HUT Bina Vokalia ke-24 di Galeri Indonesia Kaya

Setelah beberapa lama les vokal di Bina Vokalia, Nana diajak untuk berpartisipasi dalam acara perayaan HUT Bina Vokalia yang ke-24 pada hari Kamis tanggal 11 Desember 2014 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Shopping Town. Bersama teman-temannya di Mini B, Nana membawakan tema Papua dan menyanyikan 3 (tiga) buah lagu, yaitu Yamko Rambe Yamko, Apuse, dan Sajojo.

Ini foto-foto Nana dan teman-temannya di atas panggung:
1419164604754 IMG-20141211-02002 IMG-20141211-02003 IMG-20141211-02004 IMG-20141211-02005 IMG-20141211-02006 1419164590183

Lomba Mewarnai

Pada bulan Agustus tahun 2014 yang lalu, Nana mengikuti lomba mewarnai di kantorku. Nana masuk kelompok A (usia 4-6 tahun). Ini hasilnya:
1419164578169

Hasilnya menurutku cukup bagus, bahkan relatif lebih bagus dibandingkan karya peserta lain (*susahpayahberusahaobyektif*). Gue bilang ke Nana, “Nana mewarnainya sudah bagus…, tapi mama gak tau bisa menang atau gak.” Akhirnya pada hari Senin, 8 September 2014 diumumkan bahwa Nana memenangkan Juara 1 Kelompok A. Alhamdulillah….. Hari Jumat, 12 September 2014 hadiah boleh diambil dan Nana mendapatkan piala, piagam penghargaan, dan uang tunai sebesar Rp750.000. Ini Nana bersama hadiahnya:
1419164574240

Menjadi juara adalah sesuatu yang sangat membanggakan, tapi buat gue jauh lebih membanggakan melihat reaksi Nana ketika gue mengajarkan untuk berbagi dengan saudara-saudaranya yang membutuhkan. Mungkin karena sebelumnya pernah melihat berita mengenai anak-anak Palestina di TV, Nana pun tergugah untuk menyumbangkan sebagian hadiah uang yang diterimanya ke anak-anak Palestina, dan yang membuat gue lebih terharu adalah Nana menyisihkan Rp400.000 dari total Rp750.000 yang dimilikinya untuk disumbangkan! Masya Allah… Dan tanggal 15 September 2014, segera gue tunaikan amanah dari Nana untuk anak-anak di Palestina. Semoga berkah ya, Na…

Dan uang sisanya pun langsung dibelanjakan di Gramedia. Dengan bangganya Nana berjalan ke kasir untuk membayar sendiri buku yang dibelinya dengan uangnya sendiri.
IMG-20140914-01909 IMG-20140914-01910 IMG-20140914-01911

Tari Ayam

Another video jadul…

Hari Sabtu, 22 November 2014, Nana dan beberapa temannya mewakili Saraswati Preschool untuk mengikuti lomba tari di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dapat bisik-bisik dari Bu Rina, guru tarinya, Nana diposisikan di depan dan tengah karena gerakannya paling “beres”, sekaligus yang mengenakan nomor undian. Jelas bangga donk, ternyata anak gue boleh juga nich menarinya, beda banget sama mamanya, yang meskipun badannya termasuk kecil tapi sering diposisikan di belakang karena gerakannya paling “berantakan”, hehehe…

Tapi ada sedikit kekesalan gue sama pihak sekolah, dan ini pertama kalinya gue kecewa sama Saraswati Preschool, pengaturan dari pihak sekolah sangat berantakan, gak well-managed, jadi sangat tidak efisien dan membuat anak-anak tidak nyaman. Dimulai dari keberangkatan, kumpul di sekolah pagi-pagi sekali, belum memakai make-up dan kostum. Katanya sich kostum dibawa oleh Bu Rina, dan nanti janjian ketemuan di TMII aja. Dari awal gue bilang, gue dah sekian tahun lamanya gak ke TMII, gue gak pernah nyetir sendiri ke TMII, dan gue gak tau jalan menuju ke TMII. Jadi gue minta, ada yang jadi navigator gue di mobil, dan ditunjuklah Kak Tri (guru TK). Gue pikir bahasa gue dah cukup jelas ya, dan gue dikasi orang yang benar-benar mengerti jalan, ternyata I’m totally wrong! Kak Tri gak terlalu tau jalan, bahkan keluarnya di pintu tol mana aja gak tau. Untung kali ini insting gue benar (biasanya sich salah), dan alhamdulillah kita keluar di pintu tol yang benar. Tapi ternyata Kak Tri pun gak tau, mesti masuk dari pintu yang mana, jadilah sempat sekali salah jalan sebelum akhirnya menemukan jalan yang benar.

Setelah semua anak Saraswati berkumpul, gue mulai gelisah melihat Kak Ros (petugas administrasi sekolah) bolak-balik mencoba menelpon Bu Rina, dan belum berhasil ketemu juga, padahal kostum dibawa oleh Bu Rina. Gue mulai gagal paham, ini gimana sich sebenernya ngaturnya??? Setelah beberapa jam, dan beberapa anak sudah mulai bermandi keringat karena panas, akhirnya Bu Rina berhasil menemukan kami. Setelah itu, orang tua dan guru bersama-sama memakaikan kostum dan make-up untuk anak-anak. Satu hal yang paling gue gak setuju di sini adalah lokasi ganti kostum di ruang terbuka. Mungkin karena dipikir masih anak-anak, gak bakal malu kalo ganti baju di tempat terbuka! Suatu kesalahan besar, menurut gue! Sejak kecil, gue sudah ngajarin Nana perkara “malu”, mana bagian tubuhnya yang tidak boleh dilihat orang lain, kecuali mamanya. Sungguh merusak konsep yang sudah gue tanamkan sejak dini! Untungnya gue menemukan papan tulis besar yang tidak terpakai, dan akhirnya gue gantikan baju Nana di balik papan tulis itu. Selesai memakai kostum dan ber-make-up, Kak Ros bilang, “Ok…sudah siap ya, aku daftarin sekarang ya….”
“Whaaaatttt???!!!” Jam segini baru mau daftar? Mau jam berapa anak-anak tampil?
Gak tahan melihat kekacauan ini, gue pun protes ke Kak Ros, “Jadi anak-anak bakal tampil jam berapa nich kalo caranya begini???”
Dengan entengnya Kak Ros menjawab, “Ya kalo didaftarin dari tadi kan takutnya anak-anak ada yang telat, trus ntar kalo dipanggil kita belum siap ya WO, dll… Jadi ya nunggu semua siap dulu, baru daftar.”
Sambil menahan kesal, gue mengumpat dalam hati, “Tega bener sich sama anak-anak. Apa mereka gak bisa berpikir cara yang lebih manusiawi buat kenyamanan anak-anak?”

Akhirnya anak-anak baru tampil sekitar jam 1 siang (kalo gak salah inget), pastinya saat itu lagi panas-panasnya. Beberapa anak sudah mulai rewel karena kepanasan, bahkan ada yang nangis mungkin karena capek menunggu.

Ini penampilan anak-anak Saraswati Preschool membawakan tari ayam:


Dan mereka pun mendapatkan juara Harapan III, ini pialanya:
DSC_1095

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 13.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 5 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Mencari TK untuk Nana

Setelah kehebohan mencari kelompok bermain untuk Nana di posting sebelumnya, energi gue seakan terkuras dan belum sempet recovery hingga tiba saatnya kudu cari TK buat Nana. Karena selama Nana playgroup di TKAI gak ada keadaan yang mengharuskan dia bangun pagi, akhirnya gue pun lalai untuk melatih Nana bangun pagi, ujug-ujug dah mau TK aja anak gue. Secara untuk TK-nya di TKAI tuh masuk sekitar jam 8 pagi, kudu berangkat jam berapa coba dari rumah gue, kayaknya less likely Nana bakal lanjut TK di TKAI. Tapi teteup, karena dah jatuh cinta sama TKAI, dan kebetulan pula TKAI memberikan kesempatan kepada calon orang tua murid TK untuk observasi 1 hari di kelas, gue dan suami tetap mendaftarkan diri untuk ikut observasi kelas. Tujuannya sich cuma buat perbandingan aja kalo ntar kita cari TK lain, ya minimal standar TK yang acceptable ya kayak TKAI ini lah…

Berikut hasil survey gue:

Taman Kreativitas Anak Indonesia (TKAI)
Lokasi: Cipete dan Jagakarsa
Bahasa pengantar: Indonesia
Pemilik: Rose Mini (psikolog)
Kurikulum: active learning dan multiple intelligence
Untuk yang di Cipete, lokasinya gabung dengan kelompok bermainnya, jadi tetap dengan ciri khas TKAI: rumah pohon. Kelas TK ada di lantai 2. Begitu sampai di lokasi (agak telat, sich…) gue dan suami langsung diantar ke dalam kelas. Ternyata sudah ada ibu-ibu yang lagi observasi kelas juga. Duduk di bagian belakang, gue perhatiin anak-anak itu cukup tertib di kelas namun tetap semangat mengikuti kegiatan di kelas. Secara umum, materi pelajaran untuk hari itu sepertinya sudah tersusun rapi ya dan anak harus mengikuti susunan materi tersebut. Misalnya, sekarang lagi kegiatan menggambar trus ada anak yang gak suka menggambar tapi pengen kegiatan lain, bernyanyi misalnya. Ya gak bisa, nanti ada waktunya. Selain kegiatan di kelas, hari itu juga ada kegiatan outdoor yaitu main sepeda di halaman samping. Overall, gue suka dengan attitude anak-anak TKAI termasuk ibu-ibunya dan tentu saja guru-gurunya. Suasana kelas di TKAI ini more or less bakal gue jadiin benchmark buat cari TK untuk Nana dengan lokasi yang lebih dekat dari rumah.

TK Komimo
Lokasi: Jl. Limau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Bahasa pengantar: Indonesia
Pendiri: Kak Seto (lalu di-franchise-kan)
Sempat 2x mengunjungi TK Komimo ini, tapi gak dapet juga feel-nya. Penjelasan dari mbak administrasinya sich keliatannya menyenangkan, maksudnya metode pembelajarannya sich bagus, cuma ya itu tadi gue gak dapet feel-nya. Most likely karena attitude anak-anaknya. Terbiasa dengan anak-anak TKAI yang tertib dan behave, kok gue ngerasa anak-anak Komimo lebih acakadut, bahkan juga penampilannya. Entah kenapa, gue ngerasanya penampilan mereka lebih kucel alias berantakan. Dan yang lebih gue concern lagi adalah attitude-nya. Pas jam istirahat or snack time, mereka berhamburan ke ruang tengah, berlarian, tabrak-tabrakan, jatuh, menangis, dan gurunya terkesan lambat menangani. Yang menambah kekacauan juga adalah para pengantar (ortu maupun mbak/nanny) yang ikut masuk ke area dalam untuk menyuapi anak-anak itu. Kok bisa ya para pengantar ini sampai masuk ke area dalam (persis depan kelas)? Selain itu, infrastruktur sekolah juga terlihat berantakan dan kurang terawat. Kesimpulan: coret dari daftar calon TK untuk Nana!

TK A Ba Ta
Lokasi: Srengseng, Jakarta Barat
Akhirnya sampai juga di TK yang berlokasi di Jakarta Barat. Liat website mereka sich cukup menarik ya http://abata.sch.id/, unfortunately pas dikunjungi ke lokasi (kebetulan pas hari Sabtu) langsung bikin gue ilfil, alias gak tertarik. Lingkungannya gersang, area bermain outdoor beralas paving block, dan secara umum infrastrukturnya berantakan (tidak terawat). Langsung gak minat buat datang kembali untuk bertanya-tanya. Jadi, mari kita coret…!

TK Bina Insan Mandiri
Lokasi: Perumahan Qaryah Thayyibah (PQT), Srengseng, Jakarta Barat
Datang di hari Sabtu, maksudnya memang mau melihat dulu infrastrukturnya. Kalau tertarik baru deh datang kembali buat bertanya-tanya. Secara umum, infrastrukturnya lebih baik dibandingkan dengan TK A Ba Ta, dalam artian lebih luas. Tapi kalo soal kebersihan dan keteraturan sich sama aja ancurnya, hehehe… Sempat bertemu dengan salah seorang siswanya (mungkin SD ya), dan bertanya, eeehhh malah tuh anak acuh cenderung melengos. Catet….ada attitude’s problem di sini, hehehe…!
Kesimpulan: coret lageeee….!

TK Saraswati
Lokasi: Jl. Pejuangan, Kb. Jeruk, Jakarta Barat
Bahasa pengantar: bilingual (alhamdulillah cuma judulnya doank sich, hehehe…)
Pemilik/Pendiri: Shoba Dewey Chugani
Kurikulum: montessori (ternyata….) dan creative curriculum
Akhirnya gue menemukan TK di dekat rumah, yang meskipun terlihat “kurang terawat”, namun penampilan luarnya mengingatkan pada beberapa sekolah di Jakarta Selatan, sebuah rumah sederhana (tidak bertingkat) dengan halaman yang cukup luas. Karena lokasinya yang dekat rumah, tentunya sekolah ini sudah ratusan kali dilewati, tetapi dulu tidak masuk dalam daftar sekolah incaran karena pada spanduk sekolah ini tertulis “bilingual school”. Namun karena tidak ada pilihan lain, gue mencoba mengeksplor lebih jauh mengenai sekolah ini, Saraswati Preschool. Berdasarkan informasi di http://saraswatipreschool.blogspot.com/, metode belajar di sekolah ini terlihat cukup fun, student-centered, banyak praktek dan field trip. Beberapa posting mereka ada yang in English maupun in Bahasa, tetapi tidak menjadi bahasa gado-gado ala “Cinta Laura” seperti kekhawatiran gue terhadap beberapa bilingual schools. Dari beberapa posting mereka pula (terutama yang berbahasa Inggris) bisa diambil kesimpulan sementara bahwa kompetensi bahasa Inggris sekolah ini cukup baik, sekilas tidak terlihat “kecelakaan berbahasa Inggris” yang konyol. Ya, kalaupun Nana harus belajar bahasa Inggris sebelum usia 6 tahun, gue berharap dia belajar pada orang yang tepat (kompeten). Kebetulan ada pengumuman bahwa mereka akan mengadakan open house sekaligus seminar ASI bekerja sama dengan AIMI pada hari Sabtu. Bukan acara seminarnya sich yang gue cari (secara anak gue dah mau 4 tahun hehehe), tapi dengan adanya acara di hari Sabtu itu berarti gue bisa berkunjung ke sekolah ini, liat2 dan tanya2, tanpa harus mengorbankan jatah cuti (*emak2perhitunganbgtyak*). Saat menghadiri open house Saraswati, gue ditemui oleh petugas administrasi, dan dijelaskan mengenai proses belajar di Saraswati. Mendengar penjelasannya, malah jadi kurang tertarik karena kesan yang timbul justru “academic minded”. Petugas administrasi tersebut sangat membanggakan muatan akademis dalam kurikulum mereka termasuk PR untuk anak-anak dan lulusannya yang berhasil diterima di SD Bhakti, salah satu SD swasta unggulan di Jakarta Barat yang terkenal sangat “academic minded” (tes tertulis untuk masuk SD Bhakti minimal 4 halaman). Karena merasa penjelasan tersebut tidak sejalan dengan penjelasan di blogspot mereka, akhirnya dengan sabar gue menunggu kesempatan berbicara dengan pemiliknya, Ibu Shoba Dewey Chugani. Alhamdulillah, penjelasan Ibu Shoba melegakan hati. Pada akhirnya gue malah sangat terharu dengan perjuangan Ibu Shoba yang masih mempertahankan idealismenya di tengah “kejamnya pasar pendidikan” di Jakarta Barat. Bahkan pernah dalam satu tahun ajaran mereka hanya memiliki 1 murid, but the school must go on… Ibu Shoba menjelaskan, “Saya juga maunya anak-anak lancar bahasa ibunya dulu, baru belajar bahasa asing. Ini jalan tengah yang harus saya ambil kalau mau tetap survive. Kalau saya mau komersil, saya buat sekolah ini full English, pasti lebih laku.” Jadi yang dimaksud bilingual di sini ternyata bukan setiap hari bilingual ala bahasa “gado-gado”, tetapi ada khusus 1 hari dalam seminggu, Ibu Shoba terjun langsung mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak. Rasanya ini lebih realistis karena memang hanya Ibu Shoba yang terlihat cukup kompeten sebagai guru bahasa Inggris di Saraswati, daripada memaksakan guru-guru dengan kompetensi bahasa Inggris yang hanya sekedar bisa bilang “sit down, please”, “open your book”, and so on… seperti di beberapa sekolah lain yang berani menyatakan diri sebagai sekolah bilingual atau bahkan full English. Lalu masalah PR untuk anak-anak, sifatnya sangat customized, artinya sesuai keinginan orang tua. Jadi Saraswati ini sangat menyadari bahwa sebagian besar SD di Jakarta Barat mensyaratkan tes calistung untuk calon muridnya. Jadi jika Saraswati bertahan tidak mengajarkan calistung kepada murid-muridnya maka risikonya pilihan SD untuk lulusan Saraswati akan lebih terbatas. Calistung baru dikenalkan di TK B dan dengan catatan melihat kesiapan anak. Pengajaran calistung lebih dalam (termasuk PR/latihan calistung) biasanya atas permintaan beberapa orang tua murid yang akan menyekolahkan anaknya di SD Bhakti setelah lulus dari Saraswati. Dan ternyata terbukti, tanpa PR dan latihan soal yang bersifat drilling pun, beberapa anak yang memang sudah siap menerima materi calistung sekitar usia TK B sudah mulai lancar membaca. Sekolah ini sendiri hanya memenuhi 60%-70% persyaratan, istilahnya ini mungkin yang terbaik di antara yang terburuk menurut kriteria gue. Pada saat awal (sebelum memasukkan Nana), Bu Shoba tidak menjanjikan yang muluk2 bahwa Saraswati menerapkan metode montessori secara full. Dia hanya mengatakan bahwa beberapa pelajaran seperti matematika/berhitung diajarkan dengan konsep dan alat2 montessori. Makanya nama sekolahnya pun gak pake embel2 montessori. Bu Shoba ini punya sertifikasi resmi sebagai diploma montessori yang diakui secara internasional. Pas pertemuan awal tahun, dijelaskan kembali bahwa Saraswati ini menggunakan metode montessori, diperlihatkan juga bagaimana anak2 berkegiatan menggunakan aparatus montessori. Dalam hati gue mikir, “nich owner emang gak punya sense of business, kenapa gak ngiklan kalo dia pake metode montessori? Mungkin aja bisa lebih laku.” Ternyata alasannya karena meskipun Ibu Shoba ini certified montessori teacher, tetapi guru2nya belum dikasi pelatihan montessori yang intensif. Jadi dia gak berani mengiklankan diri sebagai montessori school. Gubraaaakksss deh. Sementara ada aja beberapa sekolah yang ngaku montessori tapi person yang certified malah gak terjun langsung mengajar, atau malah gak ada yang certified? Dan untuk lebih memastikan bahwa mereka berjalan di koridor Montessori yang benar, mereka meng-hire temporary (1 bulan) seorang guru montessori (WNI) yang sudah berpengalaman 7 tahun mengajar di US dan menjadi volunteer di beberapa negara, yang dulunya juga pernah mengajar di Saraswati. Dan sekarang mereka pun sudah berani taro title “montessori” di belakang nama Saraswati.  Metode montessori ini berfokus pada individu anak dan mengusahakan anak belajar bukan dari guru tapi dari lingkungannya dan pengalamannya sendiri (melakukan sendiri, memegang sendiri, dll.). Fungsi guru di sini hanya sebagai fasilitator. Masih ngambang ya? Pake contoh aja deh. Di sekolah menganut sistem mixed-aged group, artinya anak tidak dikelompokkan berdasarkan usia (jadi ada kelas PG, TK, dst.) tapi anak membaur di 1 ruangan namun pemberian assignment bisa berbeda-beda berdasarkan kemampuan individu masing-masing anak. Jadi guru punya catatan observasi HARIAN untuk MASING-MASING ANAK mengenai apa saja yang dilakukan anak, sudah sejauh mana kemampuan anak saat ditugaskan untuk melakukan suatu assignment. Di area practical life, diusahakan untuk menggunakan barang2 yang ada dalam kehidupan sehari-hari meskipun dalam ukuran yang disesuaikan dengan fisik anak2. Misalnya anak membawa 2 mangkok beling dengan sebuah nampan. Yupe yang dipake mangkok asli dari kaca, bukan plastik atau melamin. Risiko pecah? Tentu saja… Tapi mereka berpendapat dengan memberitau anak bahwa ini barang asli lho dari kaca, bisa pecah, kalo pecah berarti rusak gak bisa dipakai lagi dan pecahannya bisa berbahaya, anak akan lebih memiliki percaya diri dan bertanggung jawab daripada pake mangkok plastik yang mereka tau gak ada masalah kalo mangkoknya jatuh. Di atas nampan ada 2 mangkok berisi air, di mangkok kiri berisi 10 kelereng yang harus dipindahkan ke mangkok kanan. Anak diminta memindahkan 10 kelereng satu-persatu dari mangkok kiri ke mangkok kanan, menggunakan saringan air. Selanjutnya anak diminta membersihkan seluruh peralatan dengan lap, membersihkan tetesan air, dan mengembalikan semuanya ke posisi semula hingga siap digunakan oleh temannya. Apa maknanya? 10 kelereng dipindahkan satu-persatu (bukan sekaligus) untuk mengajarkan berhitung 1-10. Memindahkan dari kiri ke kanan, mengajarkan gerakan menulis dari kiri ke kanan. Pekerjaan lain misalnya, menyusun tower. Ada 10 kubus (semuanya dalam 1 warna) dengan ukuran 1 cm3 s.d. 10 cm3 yang sudah disusun menjadi tower di salah satu sudut ruangan. Anak diminta memindahkan kubus2 tersebut satu-persatu dimulai dari susunan tower paling atas (kubus 1 cm3) ke sudut ruangan yang lain, dan kemudian menyusunnya menjadi tower. Saat memindahkannya pun, anak harus memegang setiap kubus dengan 2 tangannya meskipun untuk kubus yang terkecil sekalipun. Kenapa harus dipindahkan dari sudut ruangan yang satu ke sudut ruangan yang lain (jaraknya cukup jauh)? Ini untuk melatih motorik kasar anak. Kenapa harus satu-persatu? Dan kenapa setiap kubus bahkan yang terkecil pun harus dipegang dengan 2 tangan? Selain untuk mengajarkan berhitung 1-10, memegang dengan 2 tangan akan membentuk persepsi ukuran di otak anak dari ukuran terkecil (1 cm3) sampai ukuran terbesar (10 cm3). Lah kalo megangnya sekaligus 2, persepsi mengenai perbedaan ukuran gak akan terbentuk donk. Terakhir, kenapa 1 warna untuk 10 kubus? Ini untuk membantu konsentrasi anak agar fokus mengenali perbedaan ukuran dan bukannya fokus pada perbedaan warna. Ketika anak menyusun tower, dan melakukan kesalahan, misalnya kubus yang lebih kecil menjadi fondasi dari kubus yang lebih besar, guru tidak perlu bilang SALAH. Kenapa? Karena tanpa perlu dibilang salah pun, anak akan tau bahwa itu salah karena tower akan jatuh (tidak tersusun sempurna). Jadi membiarkan anak belajar dari kesalahannya sendiri.
Kesimpulan: Nana masuk TK Saraswati, dan alhamdulillah anaknya senang banget, sampai susah disuruh pulang dari sekolah.

4
P1030220

P1030507P1040163

P1030137